Ketika Yesus tiba di Yerusalam kota
itu dipadati dengan orang banyak. Mereka datang ke sana untuk merayakan paskah.
Ia pergi ke Bait Suci dan melihat para pedagag dan penukar-penukar uang duduk
di sana. Mereka menjual lembu, kambing domba dan merpati untuk digunakan
sebagai persembahan korban. Ia melihat penukar-penukar uang sedang melakukan
bisnis dan meraup keuntungan besar di halaman Bait Suci itu. Ia membuat cambuk
dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci,
“Ia berkata: Ambil semuanya ini dari
sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan”
(Yohanes 2:16).
Kemudian para Murid mengingat apa
yang telah dinubuatkan dalam Mazmur 69:9, “Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan
Aku” (Yohanes 2:17). Itu dapat diterjemahkan dengan, “Semangat untuk rumah-Mu
menghanguskanku.” Kata Yunani yang diterjemahkan “cinta” [dalam Alkitab bahasa
Indonesia] di sini berarti “kegairahan, semangat.” Kata ini berasal dari akar
kata yang berarti, “menjadi panas, bersungguh-sungguh.”
Alkitab berkata bahwa Kristus telah
meninggalkan “teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya” (I Petrus 2:21).
Yesus bersemangat, bersungguh-sungguh, panas dan bergairah untuk “keluarga
Allah, yakni jemaat dari Allah yang hidup” (I Timotius 3:15). Kita harus “rajin
berbuat baik” (Titus 2:14) dalam “jemaat dari Allah yang hidup.”
I. Pertama, berkhotbah harus dengan
semangat.
Kita mendapatkan gagasan bahwa Yesus
berkhotbah dengan suara sangat lembut dari film-film Hollywood. Namun sedikit
akal sehat menunjukkan bahwa ini tentulah tidak benar. Ia berkhotbah kepada
ribuan orang pada saat yang sama. Bagaimana Ia dapat berkhotbah kepada begitu
banyak orang tanpa suara meninggi-Nya? Dalam Yohanes 7:37 kita membaca,
“Yesus berdiri dan berseru:
Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum!” (Yohanes 7:37).
Ia “berseru.” Kata Yunani untuk kata
ini berarti “berteriak, berteriak-teriak sampai parau, atau berteriak dengan
amat sangat” (George Ricker Berry); “memekik, memanggil dengan lantang,
menjerit, berteriak” (Strong). Seorang Puritan William Perkins (1558-1602)
berkata, “Dalam eksposisi doktrin dalam suatu khotbah harus menjadi lebih lembut,
namun dalam mendorong harus lebih sungguh-sungguh dan lebih semangat” (William
Perkins, The Art of Prophesying, The Banner of Truth Trust, 2002
reprint, hlm. 75). Dr. John R. Rice berkata,
Masalah terbesar dari gereja-gereja
adalah masalah pengkhotbah… Para pengkhotbah tidak memiliki api illahi,
semangat Kristus, keberanian Yohanes Pembaptis, urgensi Paulus, anugerah kuasa
Roh Kudus yang akan membakar jemaat-jemaat Allah… Apa yang kita semua butuhkan
dan harus miliki jika kita ingin diperkenan oleh Allah dan melakukan
pekerjaan-Nya dengan efektif adalah api dari sorga, api di dalam tulang-tulang
kita yang Yeremia miliki… Kita membutuhkan Firman Allah untuk membakar hati
kita, seperti api di dalam tulang-tulang kita, sehingga kita tidak dapat tahan
(John R. Rice, D.D., The Soul Winner’s Fire, Sword of the Lord
Publishers, 1969, hlm. 53-54).
Amin! Dan amin!
Dr. Martyn Lloyd-Jones sering
diingat melalui khotbah ekspositorinya. Ini karena kebanyakan dari buku-bukunya
berasal dari khotbah-khotbah paginya, yang disampaikan bagi orang-orang
Kristen. Hanya beberapa dari khotbah penginjilan yang disampaikannya pada
kebaktian malam yang dicetak. Namun jika Anda mendengarkan kaset-kaset dari
khotbah-khotbahnya yang ia sampaikan pada kebaktian malam Anda akan mendengar
contoh yang baik tentang apa yang seharusnya dilakukan dalam berkhotbah. Jauh
lebih banyak orang datang untuk mendengar dia berkhotbah pada kebaktian Minggu
malam dari pada Minggu pagi. Ketika berbicara tentang seorang pengkhotbah yang
tidak disebutkan namanya Dr. Lloyd-Jones berkata, “Tidak ada semangat, tidak
ada antusiaisme… Seluruh sikapnya kelihatan tidak memihak, akademis dan formal…
Di mana semangat dalam berkhotbah yang selalu mengkharakteristik para
pengkhotbah besar di masa lalu? Mengapa para pengkhotbah masa kini tidak
menggerakkan seperti yang begitu sering ada pada para pengkhotbah besar di masa
lalu? … Bagaimana berkhotbah? Ini adalah teologi dalam api… Khotbah adalah
teologi yang sedang membawa seseorang ke atas api” (D. Martyn Lloyd-Jones,
M.D., Preaching and Preachers, Zondervan Publishing House, 1981, hlm.
88, 90, 97). Amin! Dan amin!
Saya sekarang telah berumur tujuh
puluh tahun. Saya harus berjalan setengah jam, dan berenang selama setengah jam
lainnya setiap hari, dan tidak makan daging merah lebih dari dua tahun sekali –
untuk menjaga kondisi untuk berkhotbah. Saya harus menghabiskan banyak waktu
dalam pembelajaran saya, dan doa dan membaca – untuk menjaga kondisi untuk
berkhotbah. Anda tidak dapat melihatnya dengan membaca manuskrip-manuskrip
khotbah ini, namun ketika khotbah-khotbah ini dikhotbahkan, ini dikhotbahkan
dengan penuh semangat. Saya mengkhotbahkannya dalam bahasa Inggris, kemudian
Mr. Song menerjemahkannya ke dalam bahasa Mandarin, kemudian Mr. Mencia menerjemahkannya
ke dalam bahasa Spanyol – kemudian kembali ke saya. Khotbah-khotbah ini, dengan
dua terjemahan, selesai sekitar lima puluh menit. Itu akan sangat membosankan
kecuali bila kami bertiga mencurahkan hati kami dengan semangat penginjilan,
bahkan berkhotbah dengan “penuh semangat” pada saat yang sama – seperti yang
dinasehatkan oleh William Perkins!
Tadi malam istri saya, putra saya
dan salah satu pemuda di gereja kami menonton video Dr. W. A. Criswell yang
sedang menyampaikan khotbahnya di First Baptist Church of Dallas, Texas pada
tanggal 9 Juni 1985. Dr. Charles Stanley yang menjabat sebagai presiden dari
Konvesi Baptis Selatan berada di platform. Dr. Paige Patterson, yang
sekarang adalah presiden dari Southwestern Baptist Theological Seminary, membacakan
warta. Paduan suara yang luar biasa mempersembahkan pujian dan doa.
Ini bukan kebaktian karismatik atau
“emerging church.” Ini adalah kebaktian gereja Baptis model lama. Namun
ada sesuatu di sana yang tidak ada lagi dalam banyak gereja kita hari ini. Ini
sungguh menggairahkan! Jemaat di First Baptist memberikan tepukan tangan
empat kali sebelum Dr. Criswell mulai mengkhotbahkan khotbah yang berjudul
“Ketanpasalahan Kitab Suci.” Mereka memberikan tepuk tangan tiga kali pada saat
khotbah sedang disampaikan sebagai tanda mengaminkan apa yang disampaikan oleh
Dr. Criswell. Berkhotbah harus menggentarkan, menggairahkan dan penuh semangat.
Ketika saya menonton itu saya berpikir, “Marilah kita tidak pernah malu
bertepuk tangan untuk kebenaran! Marilah kita tidak pernah malu menunjukkan
semangat kita untuk Tuhan!” Ya, orang-orang bertepuk tangan mengaminkan
khotbah-khotbah saya. Mengapa tidak? Jika ini cukup baik bagi Dr. Criswell, ini
cukup baik juga bagi saya! Namun tidak peduli bagaimana bersemangatnya kita
dalam berkhotbah, atau betapa antusiasnya kita, itu tidak akan memiliki dampak
kekal bagi orang-orang terhilang kecuali bila Allah mengintervensi dan
memberkati khotbah-khotbah itu.
“Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan
Aku” (Yohanes 2:17).
Yang mana ini membawa kita kepada
poin kita selanjutnya.
II. Kedua, doa-doa harus dipanjatkan
dengan semangat.
Betapa semangatnya orang-orang
Kristen mula-mula berdoa! Misalnya, kita membaca dalam Kisah Rasul 4:24,
“berserulah mereka bersama-sama
kepada Allah”
(Kisah Rasul 4:24).
(Kisah Rasul 4:24).
Catat bahwa “berserulah mereka bersama-sama
kepada Allah.” Kata Yunani-nya berarti bahwa mereka menaikan suara mereka, dan
berdoa dengan keras. Kemudian perhatikanlah bahwa ayat ini mengatakan,
“berserulah mereka bersama-sama kepada Allah.” Banyak ahli tafsir Alkitab tidak
tahu apa yang membuat demikian! Hanya Charles John Ellicott nampak menafsir apa
maksudnya ini. Itu hampir dipastikan seperti yang saya pikirkan bahwa salah
satu dari mereka “menaikan” suaranya dan yang lainnya bersama-sama
“mengaminkan” dia. Perhatikanlah bahwa satu-satunya hal mereka berdoa untuk
“berikanlah kepada hamba-hamba-Mu keberanian untuk memberitakan firman-Mu”
(Kisah Rasul 4:29). Itu adalah satu-satunya permohonan dalam doa mereka.
Mungkin, juga, ketika seseorang memimpin doa, mereka semua berdoa dengan keras
pada saat yang sama dengan permohonan yang sama. Ini nampak terimplikasi dalam
ayat 24, “bersama-sama” [atau dalam KJV “dengan satu permohonan”]. Ini
kadang-kadang terjadi pada masa kebangunan rohani, seperti misalnya kebangunan
rohani bagi orang-orang Korea pada tahun 1910. Saya pernah menyaksikan ini
dalam satu kebangunan rohani di mana saya berada di sana, di sebuah gereja
Baptis Tionghoa. Kita semua harus berdoa dengan semangat agar Allah memakai khotbah
untuk mempertobatkan orang-orang terhilang! Mari kita berdoa dengan semangat,
seperti yang Yesus lakukan di Taman Getsemani.
“Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh
berdoa”
(Lukas 22:44).
(Lukas 22:44).
“Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan
Aku” (Yohanes 2:17).
III. Ketiga, memuji Tuhan harus
dengan semangat.
Mazmur 81:1 berkata,
“Bersorak-sorailah bagi Allah, kekuatan kita, bersorak-soraklah bagi
Allah Yakub.” Jika pujian tidak dilakukan dengan semangat, maka hati
orang-orang terhilang tidak akan digerakkan. Jika pujian dinyanyikan dengan
formal dan lemah, saya tidak berpikir itu diperkenan Allah. Saya percaya bahwa
satu-satunya pujian yang baik dinyanyikan dengan lantang, dengan semangat!
“Bersorak-sorailah bagi Allah, kekuatan kita, bersorak-soraklah bagi
Allah Yakub” (Mazmur 81:1). Dr. John R. Rice berkata, “Menyedihkan
gereja-gereja kita tidak memiliki musik yang dipenuhi oleh Roh dan memperkaya
hati, sehingga biasanya sedikit membantuk memenangkan jiwa” (John R. Rice,
D.D., Why Our Churches Do Not Win Souls, Sword of the Lord Publishers,
1966, hlm. 126).
Marilah kita menyanyi dengan
lantang, menyanyikan setiap pujian dengan semangat – dalam setiap ibadah, untuk
kemuliaan Allah. “Bersorak-sorailah bagi Allah, kekuatan kita,
bersorak-soraklah bagi Allah Yakub”!!!
IV. Keempat, harus ada semangat luar
biasa demi orang-orang
terhilang ketika mereka dibawa masuk ke dalam ibadah kita.
terhilang ketika mereka dibawa masuk ke dalam ibadah kita.
Menyedihkan, kita sering menemukan
apa yang Daud katakan di dalam gereja-gereja kita,
“Pandanglah ke kanan dan lihatlah,
tidak ada seorangpun yang menghiraukan aku; tempat pelarian bagiku telah
hilang, tidak ada seorangpun yang mencari aku” (Mazmur 142:4).
Seorang terhilang dapat pergi ke
gereja seperti itu dan menemukan bahwa para anggota gereja hanya tertarik pada diri
mereka sendiri. Mereka memiliki tempat-tempat spesial mereka sendiri untuk
duduk. Mereka tidak pernah belajar bersikap hangat dan ramah dengan orang-orang
baru. Mereka mungkin berjabat tangan dengan mereka dan berbicara sedikit, namun
mereka berbicara dengan tindakan mereka bahwa mereka tidak benar-benar perduli.
“Tidak ada seorangpun yang peduli terhadap jiwaku.” Oh, marilah kita menjadi
bersemangat, bersungguh-sungguh, dan bergairah dalam memperhatikan orang-orang
terhilang ketika mereka datang dalam ibadah kita! Mari lupakan diri kita
sendiri dan hanya pikirkan bagaimana memperhatikan mereka, dan menolong mereka
untuk merasa di gereja kita seperti rumah sendiri! Marilah kita seperti Yesus,
yang selalu mencari orang-orang terhilang. “Sebab Anak Manusia datang untuk
mencari dan menyelamatkan yang hilang” (Lukas 19:10). Kiranya ini dikatakan
tentang kita, ketika ini dikatakan tentang Dia.
“Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan
Aku” (Yohanes 2:17).
Mari kita berdiri dan menyanyikan
pujian nomer 6 pada lembaran lagu Anda.
Tolonglah yang sedang binasa, Pedulikan yang
sedang sekarat,Renggut mereka dari dosa dan kubur;
Menangis atas keadaan berdosa mereka, mengangkat yang telah jatuh,
Ceritakan mereka tentang Yesus untuk diselamatkan.
Tolonglah yang sedang binasa, Pedulikan yang sedang sekarat,
Yesus penuh murah hati, Yesus akan menyelamatkan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima Kasih sudah membaca Blog saya