29 November, 2011

KEBODOHAN MANUSIA DUNIAWI!


“Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani” (I Korintus 2:14).

Dalam ayat 14 dan 15 Rasul Paulus menunjukkan dua kelas manusia – duniawi dan rohani. Ia membagi umat manusia ke dalam dua kelompok ini. Ia hanya memberikan dua macam manusia – duniawi dan rohani. Jika Roh Allah belum memberikan natur yang baru kepada mereka yaitu natur yang berbeda dengan yang mereka miliki dari lahir, ia mendaftarkan mereka sebagai manusia-manusia duniawi. Ia mengajarkan bahwa manusia-manusia duniawi tidak akan pernah dapat menerima kebenaran-kebenaran Injil keculia bila mereka ditransformasi oleh Roh Allah menjadi manusia-manusia rohani (band. C. H. Spurgeon, “Natural or Spiritual?”, The Metropolitan Tabernacle Pulpit, Pilgrim Publications, 1986 reprint, volume VII, pp. 473-480).
Kata “duniawi” di sini diterjemahkan dari kata Yunani “psuchikos,” yang berarti “sensual,” tentang keinginan-keinginan (Strong). Ini mengacu kepada manusia dalam keadaan belum bertobat. Manusia dalam keadaan ini dijelaskan dalam Yudas 19 sebagai “dikuasai hanya oleh keinginan-keinginan dunia ini dan yang hidup tanpa Roh Kudus” (Yudas 19) [dalam KJV “sensual, having not the Spirit”]. Manusia harus dipertobatkan, menjadi “ciptaan baru,” untuk dapat diselamatkan dari keadaan duniawinya (II Korintus 5:17). Dari ayat kita ini, kita melihat tiga fakta yang membuktikan kebenaran ini.
I. Pertama, manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah.
“Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah…” (I Korintus 2:14).
Kata “duniawi” di sini diterjemahkan dari kata Yunani “psuchikos,” yang berarti “sensual,” tentang keinginan-keinginan (Strong). Ini mengacu kepada orang dalam keadaannya yang belum bertobat, masih duniawi. Ia hidup dengan keinginan-keinginannya. Ia tidak memiliki hubungan dengan Allah.
Adam telah berdosa melawan Allah, dan kemudian membawa kerusakan dan kesalahan itu kepada semua keturunannya. Seluruh umat manusia dibawa ke dalam dosa oleh Adam, dan keadaan “duniawi” kita yang berdosa adalah warisan dari dia.
“Oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa” (Roma 5:19).
Itulah bagaimana Anda menjadi manusia “duniawi” yang “tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah” (I Korintus 2:14). Oleh dosa Adam, seperti dikatakan Richard Wurmbrand,
Pikiran manusia cenderung gila, dan Anda mencapai realitas hanya ketika Anda melewati apa yang melampau akal (Wurmbrand, If Prison Walls Could Speak, Living Sacrifice Book Company, 2000 edition, p. 63).
“Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah…” (I Korintus 2:14).
Kita dapat mengatakan ini benar dengan hanya melihat orang-orang di sekitar kita setiap hari. Manusia duniawi yang kita temui di jalan tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah. Ini bukan hanya mengacu kepada para pemabuk dan para pelacur, namun juga kebanyakan orang-orang intelek, beradab dan beragama. Mereka semua seperti itu. Mereka tidak akan dan tidak dapat menerima apa yang berasal dari Roh Allah.
Firman Allah menjelaskan kepada kita bahwa natur berdosa kita datang dari Adam pada permulaan sejarah.
“Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa” (Roma 5:12).
“Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa” (Roma 5:19).
Seluruh umat manusia telah berdosa di dalam Adam, dan setiap orang yang ada di dunia ini telah mewarisi natur berdosa Adam. Itulah bagaimana semua manusia masuk ke dalam keadaan duniawi.
“Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah…” (I Korintus 2:14).
Lihatlah sekeliling dan Anda akan melihat ratusan manusia duniawi yang dengan kasar menentang apa yang berasal dari Roh Allah. Bahkan mungkin mereka telah menjadi anggota gereja, namun mereka menentang apa yang Allah firmankan dalam Kitab Suci. Ketika saya sedang studi di seminari liberal saya terkejut menjumpai para professor Baptis yang dengan kasar menentang kebanyakan dari pengajaran dasar Kitab Suci. Pada hari itu saya tidak sepenuhnya menyadari alasan serangan mereka terhadap “apa yang berasal dari Roh Allah.” Saya tidak sepenuhnya memahami pada saat itu, namun kemudian saya mengerti bahwa penolakan mereka terhadap kebenaran-kebenaran dasar Alkitab datang dari kenyataan bahwa mereka hanyalah manusia-manusia “duniawi,” orang-orang yang belum pernah bertobat. Alkitab berkata,
“Sebab keinginan daging [yang belum dipertobatkan] adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya” (Roma 8:7).
Manusia dalam keadaan duniawinya memiliki keinginan yang adalah perseteruan terhadap Allah, dipenuhi dengan “dendam pribadi, kebencian, tidak suka dan oposisi melawan Allah” (R. C. H. Lenski, D.D., The Interpretation of St. Paul’s Epistle to the Romans, Augsburg Publishing House, 1961 edition, hal. 506; komentar untuk Roma 8:7).
Namun jumlah yang jauh lebih besar dari manusia duniawi ini tidak secara terbuka dan tidak dengan kasar menentang apa yang berasal dari Roh Allah. Oh, tidak, mereka secara diam-diam meremehkan dan menolaknya. Jika Anda jujur dengan diri Anda sendiri suatu hari nanti mungkin Anda melihat bahwa ini benar berhubungan dengan Anda. Oleh anugerah Allah suatu hari nanti Anda akan melihat bahwa pikiran duniawi Anda telah melawan Allah dalam setiap pengalaman keseharian Anda.
Bukankah benar bahwa Anda tidak sungguh-sungguh menikmati ketika membaca Alkitab? Bukankah benar bahwa Anda hanya membaca Alkitab oleh karena menganggap itu sebagai kewajiban? Bukankah benar bahwa Anda tidak menerima berkat rohani ketika Anda membaca Firman Allah? Dan bukankah ini adalah bukti kuat bahwa Anda masih seorang
“manusia duniawi [yang] tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah…” (I Korintus 2:14).
Hal yang sama dapat dikatakan berhubungan dengan doa. Pernahkah Anda merasa dekat dengan Allah pada waktu berdoa? Apakah Anda menikmati doa? Jujurlah pada diri Anda sendiri. Dan jika Anda tidak menikmati doa, dan jika Anda tidak pernah menjadi dekat dengan Allah dalam doa, bukankah ini adalah bukti lain bahwa Anda masih seorang
“manusia duniawi [yang] tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah…” (I Korintus 2:14).
Dan ketika Anda datang ke gereja pada hari Minggu, apakah Anda gembira mendengar apa yang Allah akan firmankan kepada Anda melalui pemberitaan firman-Nya? Atau Anda menunduk memandang lantai, atau meninggalkan ruangan ini, dan tidak menerima atau menikmati khotbah-khotbah itu sama sekali? Dan, jika itu benar tentang Anda, bukankah ini adalah bukti kuat lainnya bahwa Anda masih seorang
“manusia duniawi [yang] tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah…” (I Korintus 2:14).
Dan jika Anda masuk ke ruang pemeriksaan setelah kebaktian, apakah Anda sangat tertarik mendengar apa yang dekaen kita Dr. Cagan sampaikan kepada Anda? Apakah Anda percaya dan mendengarkan dengan seksama bimbingannya berhubungan dengan pertobatan Anda? Atau Anda memadamkan pikiran Anda, tidak menerima apa yang ia katakan, dan segera melupakan apa yang ia katakan ketika Anda pergi? Dan, jika itu benar tentang Anda, bukankah ini adalah bukti lain bahwa Anda masih ada dalam keadaan duniawi, seorang
“manusia duniawi [yang] tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah…” (I Korintus 2:14).
Jika Anda tidak lagi dalam kondisi duniawi, Anda akan gembira menikmati khotbah-khotbah ini, memperhatikan seakan hidup Anda sangat bergantung atasnya, bukan? Jika Anda memang sudah tidak ada dalam keadaan duniawi Anda dengan sukacita akan memperhatikan apa yang dijelaskan oleh Dr. Cagan di ruang pemeriksaan dan memperhatikan dengan serius apa yang ia jelaskan kepada Anda, bukan? Dan beberapa dari Anda bahkan lebih buruk dari itu. Beberapa dari Anda telah tenggelam bahkan pada level yang lebih besar akan ketidak-percayaan Anda – dibuktikan oleh fakta bahwa Anda bahkan tidak mau masuk ke ruang pemeriksaan di akhir khotbah, walaupun saya mendorong Anda untuk melakukan itu. Kami tidak memaksa siapapun untuk masuk ke sana. Kami hanya memberikan kesempatan kepada orang untuk melakukan itu. Namun bukankah ketidak-tertarikan Anda untuk masuk ke dalam ruang pemeriksaan menunjukkan bahwa Anda ada dalam keadaan berbahaya? Bukankah ini menunjukkan bahwa Anda adalah
“manusia duniawi [yang] tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah…” (I Korintus 2:14).
Namun saya harus melanjutkan poin berikutnya.
II. Kedua, manusia duniawi memikirkan apa yang berasal dari Allah sebagai suatu kebodohan.
“Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan…”
       (I Korintus 2:14).
Kata Yunani yang diterjemahkan “kebodohan” di sini berarti “lucu, bodoh,” atau tidak penting (W. E. Vine). Anda mungkin berkata, “Itu tidak termasuk saya.” Apakah Anda yakin bahwa itu tidak termasuk Anda? Saya tidak begitu yakin!
Bukankah benar bahwa Anda telah mendengar banyak khotbah tentang kematian Kritus untuk mengantikan Anda, kematian untuk membayar dosa-dosa Anda? Bukankah sama benarnya bahwa Anda tidak memperhatikan ini dengan serius? Bukankah benar bahwa Anda membuang semua itu dari pikiran setelah setiap selesai kebaktian? Bukankah benar bahwa Anda melupakan semua tentang penyaliban Kristus sampai datang lagi pada kebaktian minggu berikutnya? Dan, jika itu benar, bukankah itu adalah bukti kuat bahwa Anda sesungguhnya berpikir Penyaliban Kristus menggantikan tempat Anda adalah suatu lelucon dan doktrin yang tidak penting? Oh, saya tahu Anda terlalu sopan dan terhormat untuk mengatakan itu dengan lantang. Namun bukankah kurangnya perhatian Anda akan Injil secara nyata membuktikan bahwa Anda adalah orang yang dijelaskan dalam I Korintus 1:18?
“Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa…” (I Korintus 1:18).
Dalam ayat itu, kata Yunani yang sama digunakan – “kebodohan,” tidak benar-benar penting, kebodohan untuk terlalu banyak memikirkan itu. Sekarang, jika Anda jujur, bukankah itu kebenaran fakta tentang Anda – bahwa pemberitaan tentang salib, pada kenyataannya, adalah suatu kebodohan bagi Anda – tidak layak untuk terlalu dipikirkan – tidak layak untuk memikirkan itu lebih dari sekilas atau dua khotbah – tidak cukup berharga untuk menyimpannya dalam pikiran dan hati Anda ketika Anda sedang sendirian? Dan jika memang itu benar tentang Anda, bukankah ini adalah bukti yang cukup untuk menunjukkan bahwa Anda masih ada dalam keadaan duniawi, yang tidak dapat dan tidak mau menerima
“apa yang berasal dari Roh Allah?” (I Korintus 2:14).
“Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa” (I Korintus 1:18).
Namun saya harus melangkah lebih lanjut, ke poin ketiga.
III. Ketiga, manusia duniawi harus dipertobatkan.
Ini secara kuat diimplikasikan oleh bagian terakhir dari ayat kita ini,
“Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani” (I Korintus 2:14).
“Dan ia tidak dapat memahaminya.” Oh, ia dapat mengulangi atau menghafal kebenaran-kebenaran Injil. Namun ia tidak dapat “memahami” kebenaran-kebenaran di dalam jiwanya. Ia dapat mengatakan, “Kristus mati menggantikan saya.” Namun ia tidak dapat memiliki Kristus. Ia tidak dapat masuk ke dalam Kristus dalam kehidupannya. Ia dapat mendengar kata-kata Evangeline Booth, namun kata-kata itu kedengaran asing dan tidak masuk akal bagi dia ketika ia (Evangeline Booth) berkata,
Luka-luka Kristus menganga,
   Orang berdosa, semua itu demi engkau;
Luka-luka Kristus menganga,
   Di sanalah tempat berlindung.
("The Wounds of Christ" by Evangeline Booth, 1865-1950).
“Tidak dapatkah engkau memahaminya”!
Oh, ini adalah hal yang mengerikan, karena mendengar Injil berkali-kali, namun tidak pernah mengenal Kristus! Oh, ini suatu ancaman yang mengerikan jika Anda hanya sekedar mengetahui kata-kata saja sampai mati, namun tidak pernah mengenal Yesus secara pribadi! Oh, kiranya Allah membuka hati Anda seperti Ia telah membuka hati Lydia!
“Tuhan membuka hatinya!” (Kisah Para Rasul 16:14).
Oh, kiranya Roh Allah membuka hati Anda sehingga Anda mau menerima Injil, datang kepada Yesus, dan disucikan dari dosa oleh Darah-Nya yang mahal!
Luka-luka Kristus menganga,
   Di sanalah tempat berlindung.
Saya berharap kiranya Anda dipindahkan dari hanya sekedar menghafal kata-kata tentang Injil ke tempat di mana Kristus menggenggam hati Anda, dan Anda benar-benar datang kepada Dia untuk keselamatan Anda, dan bersatu dengan Dia melalui “persatuan mistis.” Seperti dikatakan dalam Katekismus Westminster,
Persatuan orang-orang terpilih dengan Kristus merupakan hasil rahmat Allah. Olehnya, mereka digabungkan dengan Kristus secara rohani dan mistis, namun sungguh-sungguh dan secara tak terpisahkan, sehingga Kristus menjadi Kepala dan suami mereka (Katekismu Besar Westminster, jawaban untuk pertanyaan 66).

Sahabat yang pergi


Sahabatku yang dulu membagikan hidupnya untukku kini pergi tanpa sebab apapun, masa-masa yang kita lewati bersama kini aku kenangan sampai kapanpun.  Aku teringat masa sukar yang kita hadapi bersama, sampai-sampai kau memberiku tumpangan maupun materi yang kau punya.  Kami semua mengharapkan kau datang kembali, tapi semua itu sulit bagimu untuk kembali.
            Sahabatku dimanakah kau sekarang ini, kami khawatir dengan keadaan kalian semua, aku tak tau mengapa kalian tega meninggalkan sekolah kalian yang sebentar lagi akan selesai, tidakkah kalian sadari bahwa sekolah itu sangat penting bagi kita orang-orang yang belum mengenal dunia luar.  Berapa lamalah kita harus mengahadapi masa-masa sukar itu, kalau kita hadapi semua itu dengan penuh kesabaran.
            Biarlah waktu yang menjawab bagi kalian semua, aku tidak tau sampai kapan kalian menyimpan rasa yang tidak kalian inginkan.  Aku sangat menyayangkan kepergian kalian semua, dulu aku berpikir bahwa aku yang akan duluan meninggalkan kalian semua, tapi semua berubah menjadi seperti yang tak pernah aku pikirkan.
            Aku berharap kalian akan sadar, betapa pentingnya sebuah pendidikan itu.  Kalian akan merasakannya sendiri nanti, orang tua tidak selalu memberi kita makan, pasti ada masa dimana orang tua tidak lagi menafkahkan kita lagi setelah kita berkeluarga nanti.  Kalian bisa saja bekerja untuk menafkahkan anak istri kalian, tetapi kalian akan menyesal karena harus di perbudak oleh orang-orang yang berpendidikan.
            Sekalipun kalian tamatan SMA, itu tidak akan bisa mengalahkan pemikiran orang yang berpendidikan tinggi.  Apa salahnya kalau kita harus menderita dan bersabar untuk meraih citi-cita itu, supaya kita mempunyai masa depan yang cerah.  Sepertinya kalian tidak pernah berpikir panjang dalam hidup ini.
            Kalian sepertinya menyiyiakan sebuah pendidikan yang berguna bagi kita di masa depan nanti, sahabatku ku mohon jangan pernah menyiyiakan semua ini, karena semua ini adalah anugrah Tuhan buat kita, supaya kelak kita tidak di tindas oleh orang-orang luar yang mempunyai pendidikan, kalian akan merasa malu bila melihat orang yang sukses.
            Mereka sukses bukan karena mereka tidak mengalami masa-masa sukar itu, oleh karena mereka tahan menghadapi apa yang menjadi rintangan dalam hidupnya, takkan orang sukses dengan langsung pasti mereka mangalami apa yang kita alami.  Sahabatku jangan pernah menyerah untuk meraih apa yang menjadi tujuan hidup kita, sebelum kita menjalani hidup yang penuh kesusahan.

“ORANG-ORANG YANG BELUM MENGENAL INJIL” ROMA 10:13-15


PENDAHULUAN
Begitu banyak doktrin yang seringkitadengardanbanyakpengajarantentangYesusdikalangan orang-orang Kristen sekarangini.Tetapimasihadabanyak orang yang belumbegitumengenalakankebenaranitusendiri, kitatahubahwaadabanyak orang Kristen yang mengakudirinyaadalahmuridKristus. Merekajugasangatgiatdalampelayananmaupundalammencarijiwa, hampirsemua orang Kristen itunampakbenardenganapa yang merekalakukan.  Tetapisesungguhnyamerekaakanmendengarsendirikalausudahtibawaktunya (Matius7:21-23).

Masalah orang Kristen sekaranginiadalahmerekalebihsenangmendengarsuatukhotbah yang isinyahanyasebuahisapanjempol, akantetapijikamerekamendengarkansuatukhotbah yang alkitabiahmerekaakanmerasabosan.  Sedikit orang Kristen yang maumendengarkankhotbah yang berisifirmanTuhan, merekalebihsenangdengankhotbah yang menceritakansebuahpengalamanpendeta yang sedangberkhotbahitusendiri.


Sepertiapakah orang-orang yang belummengenalakankebenarantentangkeselamatanitusendiri ?

Ada empatcara yang diberikanolehRasul Paulus kepadakitauntukmengenal orang-orang yang belummengenalakankeselamatan.

1.      Bagaimanamerekaberserukepada-Nya, jikamerekatidakpercayakepadaDia (ayat 14)
Seorang yang mengakubahwadirinyaseorang Kristen, tetapimerekahanyasebatasmengaku.  Kita tahuseorang Kristen selaluberdoa, karenaTuhanYesussendiri yang menyuruh orang Kristen untukberdoa, seperti yang YesuslakukansetelahIamenyuruh orang banyakpulangdanIapergikebukituntukbrdoa (Matius 14:13).  Bagaimanadengan orang yang belumpercaya, tetapimerekaselaluberdoa.Seringkitatemukan orang-orang Kristen yang berdoa, tetapiapakahmerekasungguh-sungguh orang percaya, kitatidaktahupastidenganitu.DisiniRasul Paulus inginkitatahubahwabanyak orang Kristen yang berserukepadaTuhannamunmerekabelumsungguh-sungguh orang percaya, “tetapibukansetiap orang yang berseru: Tuhan, Tuhan……..(Matius 7:21).
2.      BagaimanamerekapercayakepadaDia, jikamerekatidakmendengartentangDia (ayat 14)

Kita sebagai orang percayaharusnyamenjadisaksibagibanyak orang yang belummengenalakankeselamatan, banyakdiantarakitahanyadudukdiamdantidakmaumemberitakankabarbaik/injilitu, kitalebihsenangmendengartetapikitatidakmelakukannya.  Rasul Paulus mengingatkanjemaat di Roma supayamereka, harusmenjadipelaku-pelakufirman (Yakobus 1:22), tidakbanyakdiantarakita yang sudahmemberitakankabarbaikitukepadakeluargakita, sanaksaudarakita, maupuntemankita.Jangansampaikitamenipudirikitasendiri.

3.      BagaimanamerekamendengartentangDia, jikatidakada yang memberitakantentangDia (ayat 14)
Tidakbanyakpelayan-pelayanTuhan yang pergiuntukmemberitakankabarbaikitu, merekalebihsenangdiamdaripadamembukamulutuntukmengabarkaninjilkepada orang-orang yang belumpercaya.  Kita tahuYunusseorang yang di panggilTuhanuntukmemberitakaninjilkepadabangsaniniwe, akantetapiialaridaripanggilanitu (Yunus 1:3).

4.      Dan bagaimanamerekamemberitakan-Nya, jikamerekatidakdiutus (ayat 15)
Setelahkitamenjadi orang percaya, kitaakanmenjadipelaku-pelakufirman.  Kita tahumasihbanyak orang-orang yang belumpercayadiluarsana, tetapipermasalahnyasedikit orang yang maudiutusuntukpergiuntukmemberitakaninjil.  Matius 28:18-19


Yesaya 30:18 “Tuhan hendak menunjukan penantian-Nya kepada umat-Nya”


Pendahuluan
            Seringkali kita menunggu dan menanti sesuatu yang kita inginkan.  Seperti seorang cowok yang menunggu kekasihnya pulang.  Kita sebagai orang percaya selalu menantikan akan kedatangan Tuhan untuk kedua kalinya (Roma 8:24-25).  Tidak seorangpun yang tak pernah ada penantian di hatinya, mungkin saat ini kita tidak menyadari bahwa kita sedang menantikan sesuatu yang kita inginkan.  Contoh : suatu pekerjaan, pendamping hidup, maupun karir yang kita inginkan.

            Bukan hanya kita saja yang mempunyai penantian, tetapi Tuhan juga punya penantian yang hendak Ia nyatakan dalam hidup kita.
Penantian apa yang ingin Tuhan berikan kepada kita (umat-Nya) ?

1.      Tuhan menanti-natikan saat untuk menunjukkan kasih-Nya kepada umat-Nya (ayat 18)
Kasih seperti apakah yang Tuhan ingin tunjukan kepada kita ? yaitu suatu kasih yang tidak berkesudahan, sekalipun kita disurga nanti kasih itu tetap ada.  Kita tahu bahwa kasih lebih besar dari sebuah pengharapan, Rasul paulus pernah mengatakan bahwa “sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih,…………”(1 Korintus 13:1).  Kita tahu bahwa Tuhan sangat mengasihi umat kepunyaan-Nya, sekalipun umat-Nya melakukan kesalah sebesar apapun Ia tetap mengasihinya.
Kasih Tuhan telah nyata didalam hidup kita, dimana Dia menyerahkan anak-Nya yang tunggal untuk mati bagi dosa-dosa kita (Yoh 3:16).

2.      Tuhan menunjukkan bahwa Ia bangkit hendak menyayangi kita (ayat 18)

Kita tahu saudara bahwa Allah maha penyayang.  Tidak ada orang tua yang tidak menyayangi anak-anaknya, sekalipun seorang anak itu nakal dan tidak taat sama orang tuanya sendiri.  Kita tahu bahwa Yesus telah bangkit dari kematian-Nya, karena Ia hendak menyayangi kita, Dia rela mati di kayu salib dan bangkit demi menebus dosa kita (Markus 8:31).
Sering kita mengalami penindasan diantara saudara-saudara kita, maupun orang lain.  Tetapi Tuhan tidak tinggal diam begitu saja.  Walaupun Ia mendatangkan kesusahan, Ia juga menyayangi menurut kebesaran kasih setia-Nya kepada kita, (Yesaya 49:13, Ratapan 3:32).

3.      Bahwa Dia adalah Allah yang adil (ayat 18)
Nabi Yesaya mengatakan kepada kita, supaya kita tahu bahwa Allah itu adil.  Karena Ia tidak memilih kasih kepada kita sebagai anak-anak-Nya.  Ada sebuah keluarga yang mempunyai 3anak, namun seorang ayah maupun ibu selalu bersikap adil terhadap anak-anaknya, sekalipun diantara ketiga anak tersebut meminta hal yang ia inginkan.  Bigitu juga Tuhan terhadap kita, Ia memperlakukan kita dengan adil.  Siapa diantara kita yang tidak mau di perlakukan dengan adil ? yang pasti tidak mau.  Ayub 34:17



Kesimpulan
Sebuah penantian yang kita inginkan bukan berarti sesuatu yang tidak akan terjadi, tetapi itu akan terjadi pada waktunya (Pengkhotbah 3:11).Apakah penantian Tuhan yang hendak Ia tunjukan itu tidak akan terjadi, namun penantian Tuhan itu sudah terjadi dimana Ia menyerahkan anak-Nya yang tunggal mati dikayu salib untuk menebus dosa-dosa kita yang dulu dan sekarang.  Sebab itu berbahagialah kita yang menanti-nantikan-Nya.