|
“Tetapi manusia duniawi
tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah
suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat
dinilai secara rohani” (I Korintus 2:14).
|
Dalam ayat 14 dan 15 Rasul
Paulus menunjukkan dua kelas manusia – duniawi dan rohani. Ia membagi umat
manusia ke dalam dua kelompok ini. Ia hanya memberikan dua macam manusia –
duniawi dan rohani. Jika Roh Allah belum memberikan natur yang baru kepada
mereka yaitu natur yang berbeda dengan yang mereka miliki dari lahir, ia
mendaftarkan mereka sebagai manusia-manusia duniawi. Ia mengajarkan bahwa
manusia-manusia duniawi tidak akan pernah dapat menerima kebenaran-kebenaran
Injil keculia bila mereka ditransformasi oleh Roh Allah menjadi manusia-manusia
rohani (band. C. H. Spurgeon, “Natural or Spiritual?”, The Metropolitan
Tabernacle Pulpit, Pilgrim Publications, 1986 reprint, volume VII, pp.
473-480).
Kata “duniawi” di sini
diterjemahkan dari kata Yunani “psuchikos,” yang berarti “sensual,” tentang
keinginan-keinginan (Strong). Ini mengacu kepada manusia dalam keadaan belum
bertobat. Manusia dalam keadaan ini dijelaskan dalam Yudas 19 sebagai “dikuasai
hanya oleh keinginan-keinginan dunia ini dan yang hidup tanpa Roh Kudus” (Yudas
19) [dalam KJV “sensual, having not the Spirit”]. Manusia harus
dipertobatkan, menjadi “ciptaan baru,” untuk dapat diselamatkan dari keadaan
duniawinya (II Korintus 5:17). Dari ayat kita ini, kita melihat tiga fakta yang
membuktikan kebenaran ini.
I. Pertama, manusia duniawi
tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah.
“Tetapi manusia duniawi
tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah…” (I Korintus 2:14).
Kata “duniawi” di sini
diterjemahkan dari kata Yunani “psuchikos,” yang berarti “sensual,” tentang
keinginan-keinginan (Strong). Ini mengacu kepada orang dalam keadaannya yang
belum bertobat, masih duniawi. Ia hidup dengan keinginan-keinginannya. Ia tidak
memiliki hubungan dengan Allah.
Adam telah berdosa melawan
Allah, dan kemudian membawa kerusakan dan kesalahan itu kepada semua
keturunannya. Seluruh umat manusia dibawa ke dalam dosa oleh Adam, dan keadaan
“duniawi” kita yang berdosa adalah warisan dari dia.
“Oleh ketidaktaatan satu
orang semua orang telah menjadi orang berdosa” (Roma 5:19).
Itulah bagaimana Anda
menjadi manusia “duniawi” yang “tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah”
(I Korintus 2:14). Oleh dosa Adam, seperti dikatakan Richard Wurmbrand,
Pikiran manusia cenderung
gila, dan Anda mencapai realitas hanya ketika Anda melewati apa yang melampau
akal (Wurmbrand, If Prison Walls Could Speak, Living Sacrifice Book
Company, 2000 edition, p. 63).
“Tetapi manusia duniawi
tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah…” (I Korintus 2:14).
Kita dapat mengatakan ini
benar dengan hanya melihat orang-orang di sekitar kita setiap hari. Manusia
duniawi yang kita temui di jalan tidak menerima apa yang berasal dari Roh
Allah. Ini bukan hanya mengacu kepada para pemabuk dan para pelacur, namun juga
kebanyakan orang-orang intelek, beradab dan beragama. Mereka semua seperti itu.
Mereka tidak akan dan tidak dapat menerima apa yang berasal dari Roh Allah.
Firman Allah menjelaskan
kepada kita bahwa natur berdosa kita datang dari Adam pada permulaan sejarah.
“Sebab itu, sama seperti
dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut,
demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang
telah berbuat dosa” (Roma 5:12).
“Jadi sama seperti oleh
ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa” (Roma 5:19).
Seluruh umat manusia telah berdosa
di dalam Adam, dan setiap orang yang ada di dunia ini telah mewarisi natur
berdosa Adam. Itulah bagaimana semua manusia masuk ke dalam keadaan duniawi.
“Tetapi manusia duniawi
tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah…” (I Korintus 2:14).
Lihatlah sekeliling dan Anda
akan melihat ratusan manusia duniawi yang dengan kasar menentang apa yang
berasal dari Roh Allah. Bahkan mungkin mereka telah menjadi anggota gereja,
namun mereka menentang apa yang Allah firmankan dalam Kitab Suci. Ketika saya sedang
studi di seminari liberal saya terkejut menjumpai para professor Baptis yang
dengan kasar menentang kebanyakan dari pengajaran dasar Kitab Suci. Pada hari
itu saya tidak sepenuhnya menyadari alasan serangan mereka terhadap “apa yang
berasal dari Roh Allah.” Saya tidak sepenuhnya memahami pada saat itu, namun
kemudian saya mengerti bahwa penolakan mereka terhadap kebenaran-kebenaran
dasar Alkitab datang dari kenyataan bahwa mereka hanyalah manusia-manusia
“duniawi,” orang-orang yang belum pernah bertobat. Alkitab berkata,
“Sebab keinginan daging
[yang belum dipertobatkan] adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak
takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya” (Roma 8:7).
Manusia dalam keadaan
duniawinya memiliki keinginan yang adalah perseteruan terhadap Allah, dipenuhi
dengan “dendam pribadi, kebencian, tidak suka dan oposisi melawan Allah” (R. C.
H. Lenski, D.D., The Interpretation of St. Paul’s Epistle to the Romans,
Augsburg Publishing House, 1961 edition, hal. 506; komentar untuk Roma 8:7).
Namun jumlah yang jauh lebih
besar dari manusia duniawi ini tidak secara terbuka dan tidak dengan kasar
menentang apa yang berasal dari Roh Allah. Oh, tidak, mereka secara
diam-diam meremehkan dan menolaknya. Jika Anda jujur dengan diri Anda
sendiri suatu hari nanti mungkin Anda melihat bahwa ini benar berhubungan
dengan Anda. Oleh anugerah Allah suatu hari nanti Anda akan melihat bahwa
pikiran duniawi Anda telah melawan Allah dalam setiap pengalaman keseharian
Anda.
Bukankah benar bahwa Anda
tidak sungguh-sungguh menikmati ketika membaca Alkitab? Bukankah benar bahwa
Anda hanya membaca Alkitab oleh karena menganggap itu sebagai kewajiban?
Bukankah benar bahwa Anda tidak menerima berkat rohani ketika Anda membaca
Firman Allah? Dan bukankah ini adalah bukti kuat bahwa Anda masih seorang
“manusia duniawi [yang]
tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah…” (I Korintus 2:14).
Hal yang sama dapat
dikatakan berhubungan dengan doa. Pernahkah Anda merasa dekat dengan Allah pada
waktu berdoa? Apakah Anda menikmati doa? Jujurlah pada diri Anda sendiri. Dan
jika Anda tidak menikmati doa, dan jika Anda tidak pernah menjadi dekat dengan
Allah dalam doa, bukankah ini adalah bukti lain bahwa Anda masih seorang
“manusia duniawi [yang]
tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah…” (I Korintus 2:14).
Dan ketika Anda datang ke
gereja pada hari Minggu, apakah Anda gembira mendengar apa yang Allah akan
firmankan kepada Anda melalui pemberitaan firman-Nya? Atau Anda menunduk
memandang lantai, atau meninggalkan ruangan ini, dan tidak menerima atau
menikmati khotbah-khotbah itu sama sekali? Dan, jika itu benar tentang Anda,
bukankah ini adalah bukti kuat lainnya bahwa Anda masih seorang
“manusia duniawi [yang]
tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah…” (I Korintus 2:14).
Dan jika Anda masuk ke ruang
pemeriksaan setelah kebaktian, apakah Anda sangat tertarik mendengar apa yang
dekaen kita Dr. Cagan sampaikan kepada Anda? Apakah Anda percaya dan
mendengarkan dengan seksama bimbingannya berhubungan dengan pertobatan Anda?
Atau Anda memadamkan pikiran Anda, tidak menerima apa yang ia katakan, dan
segera melupakan apa yang ia katakan ketika Anda pergi? Dan, jika itu benar
tentang Anda, bukankah ini adalah bukti lain bahwa Anda masih ada dalam keadaan
duniawi, seorang
“manusia duniawi [yang]
tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah…” (I Korintus 2:14).
Jika Anda tidak lagi dalam
kondisi duniawi, Anda akan gembira menikmati khotbah-khotbah ini, memperhatikan
seakan hidup Anda sangat bergantung atasnya, bukan? Jika Anda memang sudah
tidak ada dalam keadaan duniawi Anda dengan sukacita akan memperhatikan apa
yang dijelaskan oleh Dr. Cagan di ruang pemeriksaan dan memperhatikan dengan
serius apa yang ia jelaskan kepada Anda, bukan? Dan beberapa dari Anda bahkan lebih
buruk dari itu. Beberapa dari Anda telah tenggelam bahkan pada level yang lebih
besar akan ketidak-percayaan Anda – dibuktikan oleh fakta bahwa Anda bahkan
tidak mau masuk ke ruang pemeriksaan di akhir khotbah, walaupun saya mendorong
Anda untuk melakukan itu. Kami tidak memaksa siapapun untuk masuk ke sana. Kami
hanya memberikan kesempatan kepada orang untuk melakukan itu. Namun bukankah
ketidak-tertarikan Anda untuk masuk ke dalam ruang pemeriksaan menunjukkan
bahwa Anda ada dalam keadaan berbahaya? Bukankah ini menunjukkan bahwa Anda
adalah
“manusia duniawi [yang]
tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah…” (I Korintus 2:14).
Namun saya harus melanjutkan
poin berikutnya.
II. Kedua, manusia duniawi
memikirkan apa yang berasal dari Allah sebagai suatu kebodohan.
“Tetapi manusia duniawi
tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah
suatu kebodohan…”
(I Korintus 2:14).
(I Korintus 2:14).
Kata Yunani yang
diterjemahkan “kebodohan” di sini berarti “lucu, bodoh,” atau tidak penting (W.
E. Vine). Anda mungkin berkata, “Itu tidak termasuk saya.” Apakah Anda yakin
bahwa itu tidak termasuk Anda? Saya tidak begitu yakin!
Bukankah benar bahwa Anda
telah mendengar banyak khotbah tentang kematian Kritus untuk mengantikan Anda,
kematian untuk membayar dosa-dosa Anda? Bukankah sama benarnya bahwa Anda tidak
memperhatikan ini dengan serius? Bukankah benar bahwa Anda membuang semua itu
dari pikiran setelah setiap selesai kebaktian? Bukankah benar bahwa Anda
melupakan semua tentang penyaliban Kristus sampai datang lagi pada kebaktian
minggu berikutnya? Dan, jika itu benar, bukankah itu adalah bukti kuat bahwa
Anda sesungguhnya berpikir Penyaliban Kristus menggantikan tempat Anda adalah
suatu lelucon dan doktrin yang tidak penting? Oh, saya tahu Anda terlalu sopan
dan terhormat untuk mengatakan itu dengan lantang. Namun bukankah kurangnya
perhatian Anda akan Injil secara nyata membuktikan bahwa Anda adalah orang yang
dijelaskan dalam I Korintus 1:18?
“Sebab pemberitaan tentang
salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa…” (I Korintus 1:18).
Dalam ayat itu, kata Yunani
yang sama digunakan – “kebodohan,” tidak benar-benar penting, kebodohan untuk
terlalu banyak memikirkan itu. Sekarang, jika Anda jujur, bukankah itu
kebenaran fakta tentang Anda – bahwa pemberitaan tentang salib, pada
kenyataannya, adalah suatu kebodohan bagi Anda – tidak layak untuk terlalu
dipikirkan – tidak layak untuk memikirkan itu lebih dari sekilas atau dua
khotbah – tidak cukup berharga untuk menyimpannya dalam pikiran dan hati Anda
ketika Anda sedang sendirian? Dan jika memang itu benar tentang Anda, bukankah
ini adalah bukti yang cukup untuk menunjukkan bahwa Anda masih ada dalam
keadaan duniawi, yang tidak dapat dan tidak mau menerima
“apa yang berasal dari Roh
Allah?” (I Korintus 2:14).
“Sebab pemberitaan tentang
salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa” (I Korintus 1:18).
Namun saya harus melangkah
lebih lanjut, ke poin ketiga.
III. Ketiga, manusia duniawi
harus dipertobatkan.
Ini secara kuat diimplikasikan
oleh bagian terakhir dari ayat kita ini,
“Tetapi manusia duniawi
tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah
suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat
dinilai secara rohani” (I Korintus 2:14).
“Dan ia tidak dapat
memahaminya.” Oh, ia dapat mengulangi atau menghafal kebenaran-kebenaran Injil.
Namun ia tidak dapat “memahami” kebenaran-kebenaran di dalam jiwanya. Ia dapat
mengatakan, “Kristus mati menggantikan saya.” Namun ia tidak dapat memiliki
Kristus. Ia tidak dapat masuk ke dalam Kristus dalam kehidupannya. Ia dapat
mendengar kata-kata Evangeline Booth, namun kata-kata itu kedengaran asing dan
tidak masuk akal bagi dia ketika ia (Evangeline Booth) berkata,
Luka-luka Kristus menganga,
Orang berdosa, semua itu demi engkau;
Luka-luka Kristus menganga,
Di sanalah tempat berlindung.
("The Wounds of Christ" by Evangeline Booth, 1865-1950).
Orang berdosa, semua itu demi engkau;
Luka-luka Kristus menganga,
Di sanalah tempat berlindung.
("The Wounds of Christ" by Evangeline Booth, 1865-1950).
“Tidak dapatkah engkau
memahaminya”!
Oh, ini adalah hal yang
mengerikan, karena mendengar Injil berkali-kali, namun tidak pernah mengenal
Kristus! Oh, ini suatu ancaman yang mengerikan jika Anda hanya sekedar
mengetahui kata-kata saja sampai mati, namun tidak pernah mengenal Yesus secara
pribadi! Oh, kiranya Allah membuka hati Anda seperti Ia telah membuka hati
Lydia!
“Tuhan membuka hatinya!”
(Kisah Para Rasul 16:14).
Oh, kiranya Roh Allah
membuka hati Anda sehingga Anda mau menerima Injil, datang kepada
Yesus, dan disucikan dari dosa oleh Darah-Nya yang mahal!
Luka-luka Kristus menganga,
Di sanalah tempat berlindung.
Di sanalah tempat berlindung.
Saya berharap kiranya Anda
dipindahkan dari hanya sekedar menghafal kata-kata tentang Injil ke tempat di
mana Kristus menggenggam hati Anda, dan Anda benar-benar datang kepada Dia
untuk keselamatan Anda, dan bersatu dengan Dia melalui “persatuan mistis.”
Seperti dikatakan dalam Katekismus Westminster,
Persatuan orang-orang
terpilih dengan Kristus merupakan hasil rahmat Allah. Olehnya, mereka
digabungkan dengan Kristus secara rohani dan mistis, namun sungguh-sungguh dan
secara tak terpisahkan, sehingga Kristus menjadi Kepala dan suami mereka
(Katekismu Besar Westminster, jawaban untuk pertanyaan 66).